Awal tahun 2004 DANI AMUNG MAHRUM kelahiran Indramayu, 15 Juli 1964, ayah dari 3 orang putra dan 1 orang putri, mulai mencoba mengajar bimbel tingkat SD.

Dari sekian banyak siswa-siswi SD yang dibimbing mempunyai problem yang hampir sama yaitu kesulitan dibidang matematika, dan penyebabnya adalah karena mereka mengalami kesulitan dalam ilmu hitung (Aritmatika). Hampir semua siswa-siswi yang dibimbingnya tidak hafal perkalian angka satuan.

Melihat kenyataan tersebut, Penulis teringat ketika duduk dibangku SD pada tahun 1976. Ibu PONIYEM guru SD TELADAN (SDN. Cipancuh II Kec. Haurgeulis Indramayu - Jawa-Barat) mengajarkan pada murid-muridnya cara menghitung perkalian angka 6 s/d 9 dengan menggunakan 10 jari tangan.

Misalnya :  7  x  8

Cara Penyelesaiannya :

 

Pada jari tangan kiri, 2 jari ditutup yaitu : kelingking dan jari manis (sebagai angka 7). Dan pada jari tangan kanan, 3 jari ditutup yaitu : kelingking, jari manis dan jari tengah (sebagai angka 8).

Kedua tangan yang jarinya ditutup (2 & 3 jari) ditambahkan dan hasilnya 5 (sebagai angka puluhan), sedangkan kedua tangan yang jarinya terbuka (3 & 2 jari) dikalikan dan hasilnya 6 (sebagai angka satuan). Maka ketika digabungkan hasilnya adalah 56.

Luar biasa sangat cepat dan mudah. Akan tetapi metode tersebut mempunyai kelemahan, yaitu tidak dapat melakukan perkalian pada angka kurang dari 6.

Melihat kelemahan metode tersebut. Penulis mulai mencoba mengutak-atik jari tangan untuk mencari solusi, dengan harapan dapat menemukan perkalian angka 1 s/d 5 dengan menggunakan jari tangan, agar dapat membantu siswa-siswi SD yang belum hafal perkalian angka satuan.

Ternyata tidaklah mudah, berbulan-bulan mencoba mengutak-atik jari tangan, tetapi tidak memperoleh hasil yang diharapkan.

Awal Agustus 2004, sekitar jam 03.00 dinihari seusai shalat malam dan ketika berdzikir menggunakan jari tangan dan membaca Tasbih 33 x, Tahmid 33 x, dan Takbir 33 x, yang jumlah keseluruhan 99 x, ternyata dari 10 jari tangan masih ada 2 jari tangan yang tidak digunakan.

Sambil memperhatikan warna kulit antara punggung tangan dan telapak tangan, ternyata ada perbedaan. Akhirnya ditemukanlah bentuk angka 1 s/d 10 pada jari tangan kiri, dengan cara diputar balikan.

Dengan mengacu pada prinsip berhitung dengan menggunakan LIDI, ditemukanlah PENJUMLAHAN dengan angka hingga tidak terbatas.

Dari penjumlahan inilah selanjutnya ditemukan Perkalian, Pengurangan, Pembagian, Pecahan, Akar Pangkat 2, Akar Pangkat 3, Keliling, Luas, Volume, Faktor Prima, FPB, dan KPK.

Setelah diuji cobakan, mulai dari anak usia dini (pra sekolah) hingga mahasiswa, para orang tua, guru, Kepala Sekolah, dll. Ternyata responnya positif, mereka mengatakan bahwa metodenya sangat mudah dan praktis, dan menyarankan agar segera diberi nama dan dibukukan serta didaftarkan hak ciptanya.

Melihat berbagai macam methode berhitung dengan jari seperti ; Jari Hitung Cepat, Matematika Jari, Aritmatika Jari, Jarimatika, Sempoa Jari, dll. Yang kesemuanya hanya dapat menghitung kali, bagi, tambah kurang, serta menghitungnya masih tetap menggunakan memori otak (ada angka-angka yang disimpan di otak).

Karena dalam methode ini cara berhitungnya benar-benar menggunakan jari tangan, tanpa ada satu angkapun yang disimpan di memori otak, sehingga jari tangannya benar-benar menyerupai kalkulator, maka metode ini diberi nama JARI PINTAR ARITMATIKA yang artinya Jari Pintar Berhitung atau Berhitung dengan Jari.

Akhirnya Agustus 2006 buku telah terbit, dan Hak Cipta didaftarkan di Dirjen HAKI Dep.Hum dan HAM RI dengan No. : C00200604915 - 5047